TEORI DASAR T.B.P


1.      BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.      Pengertian Belajar Dan Ciri-Cirinya
Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Menurut Djamarah(2002:15) belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar.
2)      Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3)      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4)      Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara.
5)      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6)      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

B.      Jenis-Jenis Belajar
1)      Menurut Robert M. Gagne
Manusia memilki beragam potensi, karakter, dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipre-tipe belajar yang dilakukan manusia. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
a)      Belajar isyarat (signal learning). Menurut Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
b)      Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping). Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member pertanyaan kemudian murid menjawab.
c)       Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
d)      Belajar asosiasi verbal (verbal Association). Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
e)      Belajar membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
f)       Belajar konsep (concept learning). Belajar mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
g)      Belajar dalil (rule learning). Tipe ini meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
h)      Belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule). Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut.
Selain delapan jenis belajar, Gagne juga membuat semacam sistematika jenis belajar. Menurutnya sistematika tersebut mengelompokkan hasil-hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri sama dalam satu katagori. Kelima hal tersebut adalah :
a)      keterampilan intelektual : kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan symbol huruf, angka, kata atau gambar.
b)      informasi verbal : seseorang belajar menyatakan atau menceritakan suatu fakta atau suatu peristiwa secara lisan atau tertulis, termasuk dengan cara menggambar.
c)       strategi kognitif : kemampuan seseorang untuk mengatur proses belajarnya sendiri, mengingat dan berfikir.
d)      keterampilan motorik : seseorang belajar melakukan gerakan secara teratur dalam urutan tertentu (organized motor act). Ciri khasnya adalah otomatisme yaitu gerakan berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan luwes.
e)      sikap keadaan mental yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan dalam bertindak.
2)      Menurut Bloom
Benyamin S. Bloom (1956) adalah ahli pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konseptaksonomi belajar. Taksonomi belajar adalah pengelompokkan tujuan berdasarkan domain atau kawasan belajar. Menurut Bloom ada tiga dmain belajar yaitu :
a)      Cognitive Domain (Kawasan Kognitif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bias diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:
Ø  Pengetahuan (Knowledge).
Ø  Pemahaman (Comprehension).
Ø  Penerapan (Aplication)
Ø  Penguraian (Analysis).
Ø  Memadukan (Synthesis).
Ø  Penilaian (Evaluation).
b)      Affective Domain (Kawasan afektif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:
Ø  Penerimaan (receiving/attending).
Ø  Sambutan (responding).
Ø  Penilaian (valuing).
Ø  Pengorganisasian (organization).
c)       Karakterisasi (characterization). Psychomotor Domain (Kawasan psikomotorik). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:
Ø  Kesiapan (set).
Ø  Meniru (imitation).
Ø  Membiasakan (habitual).
Ø  Adaptasi (adaption).

C.      Pengertian Pembelajaran Dan Ciri-Cirinya
Pengertian pembelajaran menurut kamus bahasa Indonesia adalah Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, Pengertian pembelajaran menurut beberapa ahli :
1)      Duffy dan Roehler (1989). Pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.
2)      Gagne dan Briggs (1979:3). Mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut :
a)      merupakan upaya sadar dan disengaja
b)      pembelajaran harus membuat siswa belajar
c)       tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan
d)      pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses maupun hasilnya

D.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Beberapa prinsip pembelajaran dikemukakan oleh Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran Fillbeck (1974), sebagai berikut :
1)      Respon-respon baru (new responses) diulang sebagai akibat dari respon yang terjadi sebelumnya.
2)      Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda dilingkungan siswa.
3)      Perilaku yang timbul oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan.
4)      Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas pula.
5)      Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti yang berkenaan dengan pemecahan masalah.
6)      Situasi mental siswa untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan siswa selama proses siswa belajar.
7)      Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik menyelesaikan tiap langkah, akan membantu siswa.
8)      Kebutuhan memecah materi kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil dapat dikurangi dengan mewujudkan dalam suatu model.
9)      Keterampilan tingkat tinggi (kompleks) terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana.
10)   Belajar akan lebih cepat, efisien, dan menyenangkan bila siswa diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya.
11)   Perkembangan dan kecepatan belajar siswa sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada yang lebih lambat.
12)   Dengan persiapan, siswa dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar.

2.      TEORI-TEORI BELAJAR DAN PENERAPANNYA

A.      Pengertian Teori Deskriptif Dan Prespriktif
Untuk membedakan antara teori belajar dan teori pembelajaran bisa diamati dari posisional teorinya, apakah berada pada tataran teori deskriptif atau perspektif. Bruner (dalam Dageng, 1989) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah perspektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan teori belajar bersifat deskritif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan antara variable-variabel yang menentukan hasil belajar. Sedangkan teori pembelajaran sebaliknya, teori ini menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable yang dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar.(C.Asri Budiningsih,2004).
Asri Budiningsih (2004) dalam buku Belajar dan Pembelajaran menjelaskan bahwa upaya dari Bruner untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori pembelajaran yang perspektif dikembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth. Teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variable kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan menempatkan hasil belajar sebagai varibael yang diamati. Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran sebagai variable bebas dan hasil pembelajaran sebagai variable tergantung.

B.      Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
1)      Ivan P.Pavlov
mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
2)      Thorndike
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan.
Thorndike menemukan hukum-hukum belajar :
a)      Hukum kesiapan (Law of Readiness).
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
b)      Hukum latihan.
Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect.
c)       Hukum akibat ( Efek ).
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Rumusan tingkat hukum akibat adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Jadi hokum akibat menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.
d)      Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.

C.      Teori Belajar Kognitivistik
Teori ini lebih menekankan kepada proses belajar daripada hasil belajar. Bagi yang menganut aliran kognitivistik belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun didalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidajk hanya berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses mengalir, bersambung dan menyeluruh.
1)      Robert M. Gagne
Salah satu teori yang berasal dari psikolog kognitiv adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M. Gagne. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut:
a)      Reseptor (alat indera) : menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsaangan neural, memberikan symbol informasi yang diterimanya dan kemudian di teruskan.
b)      Sensory register (penempungan kesan-kesan sensoris) : yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual. Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek dan sebagian hilang dalam system.
c)       Short term memory (memory jangka pendek) : menampung hasil pengolahan perceptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpananya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat di transformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang.
d)      Long Term memory (memori jangka panjang) :menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang disimpan dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan saja.
e)      Response generator (pencipta respon) : menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi reaksi jawaban.
2)      Jean Piaget
Menurut Piaget proses belajar sebenarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu :
a)      Asimilasi : proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada.
b)      Akomodasi : proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
c)       Equilibrasi : penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.
D.      Teori Humanistik
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
1)      Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
a)      suatu usaha yang positif untuk berkembang
b)      kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis, Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
2)      Bloom dan Krathwohl
Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai oleh siswa tercakup dalam tiga kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.

E.       Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa, Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:
1)      mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan
2)      mengutamakan proses
3)      menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman social
4)      pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
3.      MOTIVASI
A.     Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata bahasa latin “movere“ yang berarti “menggerakkan“. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Hamper senada Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Pengertian ini bermakna jika seseorang melihat suatu manfaat dan keuntungan yang akan diperoleh maka ia akan berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut.
B.      Jenis Dan Sumber Motivasi
Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu tanpa adanya rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar misalnya pemberian pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional.
Menurut Maslow, ada lima kebutuhan dasar manusia. Kelima kebutuhan tersebut adalah :
1)      Kebutuhan fisiologis (physiological needs),
2)      Kebutuhan keamanan dan rasa terjamin (safety or security needs),
3)      Kebutuhan social (social needs),
4)      Kebutuhan ego (esteem needs),
5)      Kebutuhan aktualisasi diri (self_actualization).
Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Maslow harus terpenuhi, sebab kebutuhan yang telah lama tidak terpenuhi, tidak dapat menjadi active motivator. Jika kebutuhan tersebut terblokade dan tidak dapat menjadi active motivator, maka usaha manusia hanya bertahan pada level sebelumnya, dan tidak ada peningkatan. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan merupakan hal penting untuk meningkatkan motivasi seseorang termasuk dalam konteks motivasi belajar. Seseorang yang lama kebutuhannya tidak terpenuhi, bisa menjadi penyebab timbulnya sikap-sikap destruktif, menentang, dan bahkan frustasi.
Terhadap teori Maslow ini tentu saja tidak sepenuhnya benar, bahwa pemenuhan kebutuhan harus hirarkis sehingga seseorang tidak bisa melakukan aktualisasi diri sebelum esteem needs dan kebutuhan lainnya terpenuhi. Dalam prakteknya tidak sedikit orang termotivasi melakukan sesuatu yang konstruktif (aktualisasi diri) meski kebutuhan-kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi.
C.      Peran Motivasi Dalam Belajar Dan Pembelajaran
Secara umum terdapat dua peranan penting motivasi dalam belajar, pertama, motivasi merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Kedua, motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Beberapa penelitian tentang prestasi belajar menunjukkan bahwa motivasi sebagai faktor yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977) Bloom (1980), Winer (1986), Fyans dan Maerh (1987) melakukan berbagai penelitian tentang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Dalam studi yang dilakukan Fyans dan Maerh (1987) bahwa di antara tiga faktor, yaitu latar belakang keluarga, kondisi/ konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan prediktor yang paling baik untuk pretasi belajar. Walberg dkk (1983), menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan Suciati (1990), menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen, sedangkan Mc Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
D.      Model Motivasi ARCS
Dari berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (1983), telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motavasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang disebut sebagai ARCS model yakni Attetion (perhatian), Relevance (Relevansi), Confidence (kepercayaan diri) dan Satisfaction (kepuasan).
Attetion (perhatian), muncul didorong rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu seseorang dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks.
Ada beberapa strategi untuk merangsang minat dan perhatian, yakni :
1)      Gunakan metode menyampaian yang bervariasi,
2)      Gunakan media untuk melengkapi pembelajaran,
3)      Gunakan humor dalam penyajian pembelajaran,
4)      Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep yang diutarakan dan,
5)      Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa .
Relevance (Relevansi), menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menunjukkan relevansi dalam pembelajaran:
1)      Sampaikan kepada siswa apa yang akan dapat mereka lakukan setelah mempelajari materi pembelajaran,
2)      Jelaskan manfaat pengetahuan atau keterampilan yang akan dipelajari,
3)      Berikan contoh, latihan atau tes yang langsung berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tertentu.
Confidence (kepercayaan diri), merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan. Motivasi akanmeningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah strategi untuk meningkatkan kepercayaan diri :
1)      Meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman berhasil,
2)      Menyusun pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut mempelajari banyak konsep sekaligus,
3)      Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan persyaratan untuk berhasil,
4)      Menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan siswa,
5)      Tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan pernyataan-pernyataan yang membangun,
6)      Berikan umpan balik konstruktif selama pembelajaran, agar siswa mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi belajar mereka.

Satisfaction (kepuasan), keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Ada sejumlah strategi untuk mencapai kepuasan, yakni :
1)      Gunakan pujian secara verbal, umpan balik yang informative, bukan ancaman atau sejenisnya,
2)      Berikan kesempatan kepada siswa untuk segera menggunakan atau mempraktekkan pengetahuan yang baru dipelajari,
3)      Minta kepada siswa yang telah menguasai untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil,
4)      Bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri di masa lalu dengan suatu atandar tertentu, bukan dengan siswa lain.
E.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Dalam buku belajar dan pembelajaran Ali Imron (1996) mengemukakan ada enam unsur atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran. Keenam faktor tersebut adalah :
1)      Cita-cita atau aspirasi pembelajar
Cita-cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Hal ini bisa diamati dari banyaknya kenyataan motivasi seorang pembelajar menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita.
2)      Kemampuan pembelajar
Manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena itu sering terlihat seseorang memiliki kemampuan di bidang tertentu belum tentu memiliki kemampuan di bidang lainnya.
3)      Kondisi pembelajar
Hal ini bisa terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pembelajar. Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat dari keadaan fisik seseorang. Apabila kondisi psikis seseorang sedang tidak bagus maka motivasi pun akan menurun.
4)      Kondisi lingkungan pembelajar
Kondisi lingkungan pembelajar menjadi factor yang mempengaruhi motivasi bisa diamati dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang mengitari si pembelajar.
5)      Unsur-unsur dinamis belajar atau pembelajaran
Faktor dinamisasi belajar dapat diamati pada sejauh mana upaya memotivasi si pembelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagainya.
6)      Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar
F.       Upaya-Upaya Memotivasi Dalam Belajar
Ali Imron (1996) mengemukakan ada empat upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pembelajar. Empat cara tersebut adalah :
1)      Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar,
2)      Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis pembelajaran,
3)      Mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi,
4)      Mengembangkan aspirasi dalam belajar.
Ada sejumlah prinsip-prinsip belajar yang harus dioptimalkan sebagai upaya memotivasi dalam belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah : prinsip perhatian, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, rangsangan dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan, dan prinsip perbedaan individual antar pembelajar. Untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan mengupayakan untuk menjauhkan kendala-kendala yang ditemui dalam proses optimalisasi tersebut.
Optimalisasi yang dilakukan adalah optimalisasi unsur dinamis dan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pembelajar. Optimalisasi unsur dinamis dilaksanakan dengan cara perlunya kreativitas dalam menyiapkan alat-alat belajar bersama pembelajar. Sedangkan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pembelajaran dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1)      Biarkan pembelajar menangkap sesuai kemampuan dan pengalamannya.
2)      Kaitkan pengalaman belajar saat ini dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan si pembelajar.
3)      Lakukan penggalian pengalaman dan kemampuan yang dimiliki pembelajar.
4)      Beri kesempatan pembelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilikinya.
Cita-cita dan aspirasi juga penting dikembangkan sebagai upaya dalam memotivasi belajar si pembelajar.

4.       KURIKULUM
A.     Pengertian Kurikulum
kurikulum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.
Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik.Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track  atau jalur  pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Menurut Grundy, S (1987) kurikulum merupakan program aktivitas guru dan murid yang dirancang sedemikian rupa sehingga akan mencapai sebanyak mungkin tujuan akhir kegiatan pendidikan atau sekolah.
B.      Landasan Kurikulum
Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan.Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) dalam Akhmad Sudrajat, mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
1)      Landasan filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. 
2)      Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakanbahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yangmendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologiperkembangan dan (2) psikologi belajar.
Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya, Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
3)      Landasan sosiologis
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut dimasyarakat.
4)      Organisatoris
Landasan ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum perlu di susun suatu desain yang tepat dan fungsional. Dilihat dari organisasinya ada tiga tipe bentuk kurikulum:
a)      Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum).
b)      Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang sejenis di hubung-hubungkan (Correlated curriculum).
c)       Kurikulum yang terdiri dari peleburan semua/hampir semua mata pelajaran (integrated curriculum).
C.      Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1)      Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2)      Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3)      Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4)      Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5)      Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
D.      Pendekatan Kurikulum
Pendekatan kurikulum ialah cara kerja dengan cara menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikut langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghaislkan kurikulum yang lebih baik.
Ada berbagai macam pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan kurikulum, yaitu :
1)      Pendekatan berorientasi pada bahan pelajaran
2)      Pendekatan berorientasi pada tujuan
3)      Pendekatan dengan pola organisasi bahan
E.       Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perubahan dari Kurikulum Berbasis Content atau  yang lebih dikenal dengan  Kurikulum Nasional yang diatur dalam Kepmendikbud no 56/U/1994. Bentuk perubahan utama dari perubahan kurikulum yang dilakukan adalah kurikulum berbasis kontent menitik beratkan pada penguasaan ilmu dan aplikasinya dimana kurikulum ini dibagi menjadi kurikulum nasional dan kurikulum lokal. Kurikulum Berbasis Kompetensi tidak lagi menekankan pada pada konten tapi menekankan pada kompetensi lulusan yang diinginkan sehingga lulusan di terima di dunia luar. Dari kompetensi ini baru dirumuskan bahan kajian apa yang diperlukan dan diimplementasikan dalam bentuk Mata Kuliah yang akan diberikan pada mahasiswa. Mata kuliah yang diberikan tentunya MK yang diberikan dalam rangka mencapai kompetensi yang diinginkan.
Untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat atau tepatnya peserta didik, maka ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam proses pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
yaitu sebagai berikut:
1)      Peningkatan Keimanan, Budi Pekerti luhur, dan Penghayatan nilai – nilai
Budaya.
2)      Menghadapi abad pengetahuan
3)      Integritas Nasional
4)      Perkembangan Pengetahuan dan Tekhnologi Informasi
5)      Pengembangan Kecakapan Hidup
6)      Komprehensif dan Berkesinambungan
7)      pendidikan alternative
8)      pendidikan multikultural dan multi bahasa
9)      Pendidikan sepanjang hayat

5.      PENDEKATAN PEMBELAJARAN
A.     Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
B.      Jenis-Jenis Metode Pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajarandapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Jenis-jenis metode dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pendekatan, diantaranya:
1)      Berdasarkan pemberian informasi:
a)      Metode Ceramah
b)      Metode Tanya Jawab
c)       Metode Demonstrasi
2)      Berdasarkan pemecahan masalah:
a)      Metode Curah Pendapat (Brainstorming)
b)      Metode Diskusi Kelompok 
c)       Metode Panel
d)      Metode Seminar
e)      Metode Simposium
3)      Berdasarkan penugasan:
a)      Metode Latihan (Drill)
b)      Metode Penugasan (Resitasi)
c)       Metode Kelompok Kerja (Workshop)
d)      Metode Studi Kasus
e)      Metode Karyawisata
C.      Jenis-Jenis Pendekatan Belajar
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnyamasih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pendekatan pembelajaran terdapat beberapa jenis yaitu :
1)      Pendekatan Quantum Teaching
2)      Pendekatan Multiple Intelegences
3)      Pendekatan E-Learning
4)      Pendekatan belajar aktif
5)      Pendekatan belajar kooperatif
6)      Pendekatan konteksual
7)      Pendekatan belajar berbasis masalah

6.      SUMBER BELAJAR

A.      Pengertian Sumber Belajar
Sudjana (Suratno, 2008), menuliskan bahwa pengertian Sumber Belajar bisa diartikan secara sempit dansecara luas. Pengertian secara sempit diarahakan pada bahan-bahan cetak. Sedangkan secara luas tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsungmaupun tidak langsung.
B.      Macam-Macam Sumber Belajar
Sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajara ini bermanfaat dalam memberikan sumbangan yang positif untuk peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran. Terdapat enam macam sumber belajar yaitu :
1)      Pesan
2)      Orang
3)      Bahan
4)      Alat
5)      Teknik
6)      latar / lingkungan.
Keenam sumber belajar tersebut juga merupakan komponen system dalam pembelajaran, artinya dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu terdapat keenam komponen tersebut.
C.      Manfaat Sumber Belajar
Manfaat sumber belajar, masih menurut Rohani (1997), antara lainmeliputi:
1)      Dapat memberi pengalaman belajar secara langsung dankonkrit kepada peserta didik. Misal, karyawisata ke objek-objek sepertipabrik, pelabuhan, kebun binatang, dan sebagainya.
2)      Dapat menyajikansesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi, atau dilihat secaralangsung dan konkret. Misal denah, sketsa, foto-foto, film, majalah, dansebagainya.
3)      Dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yangada di dalam kelas. Misal buku-buku teks, foto-foto, film, nara sumbermajalah dan sebagainya.
4)      Dapat memberi informasi yang akurat danterbaru. Misal, buku-buku bacaan, encyclopedia, majalah.
5)      Dapatmembantu memecahkan masalah pendidikan (instruksional) baik dalamlingkup mikro maupun makro. Misal, secara makro: sistem belajar jarak jauh(SBJJ) melalui modul. Secara mikro: pengetahuan ruang (lingkungan) yangmenarik, simulasi, penggunaan film dan OHP.
6)      Dapat memberi informasiyang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7)      Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.Misal, buku teks, buku bacaan, film dan lain-lain, yang mengandung daya penalaran sehingga dapat merangsang peserta didik untuk berpikir,menganalisis dan berkembang lebih lanjut.
D.      pendekatan belajar berbasis aneka sumber (BEBAS)
Belajar berbasis aneka sumber terkait dengan beberapa pengertian dan sistem pembelajaran diantaranya: open learning. Distance learning, flexible learning, learning resources, dan resource based seperti yang dikemukakan oleh Dorrell (1993):
1)      Open learning adalah prinsip belajar terbuka untuk semua orang. Dengan kata lain tidak ada prakualifikasi  seperti batas usia, status sosial, ekonomi dan lain-lain. Pemelajar dapat memilih di mana, kapan, bagaimana, mereka akan belajar serta bebas dari segala interupsi.
2)      Distance learning, pendidikan jarak jauh  adalah sistem atau proses yang langsung  menghubungkan pemelajar dengan sumber-sumber yang jauh. Bahan-bahan yang digunakan sama dengan yang digunakan dengan pendidikan terbuka.

7.       EVALUASI HASIL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
A.      Pengertian Pengukuran, Penilaian(Asesmen) dan Evaluasi
1)      Pengukuran
merupakan proses membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif
Berikut beberapa definisi mengenai pengukuran menurut beberapa ahli:
a)      Pengukuran secara lebih formal sebagai suatu proses di mana kita mengenakan angka-angka kepada barang atau gejala-gejala berdasarkan aturan-aturan tertentu.
b)      Pengukuran sebagai proses membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran tertentu.
c)       Norman E. Gronlund (1971) secara sederhana merumuskan pengukuran sebagai   "measurement  is  limited to  quantitative  descriptions  of pupil behavior"
d)      Victor H. Noll (1957) mengemukakan dua karakteristik utama pengukuran yaitu "quantitativeness" dan "constancy of units". Yang menyatakan "Since measurement is a quantitative process, the results of measurement are always expressed in numbers ".
2)      Penilaian
Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrument tes atau non tes, Sedangkan pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah suatu proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembelajaran secara kualitatif.
3)      Evaluasi (evaluation)
Kata evaluasi merupakan pengindonesiaan dari kata evaluation dalam bahasa Inggris, yang lazim diartikan dengan penaksiran atau penilaian. Kata kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir atau menilai. Sedangkan orang yang menilai atau menaksir disebut sebagai evaluator(Echols, 1975).
Penilaian atau assesement terhadap pembelajaran siswa   membutuhkan penggunaan sejumlah teknik untuk mengukur prestasi siswa. Penilaian merupakan suatu proses sistematis yang memainkan peran penting dalam pengajaran yang efektif. Penilaian berawal dari identifikasi tujuan pembelajaran (learning goal) dan berakhir dengan penilaian (judgment) tentang seberapa dalam tentang tujuan itu telah tercapai.
B.      Penilaian  Hasil Belajar Dan Kegunaannya
Penilaian hasil belajar adalah segala macam prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai unjuk kerja (performance) siswa atau seberapa jauh siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Terdapat beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengumpulkan bukti-bukti kemajuan belajar siswa, yaitu :
1)      Penilaian portofolio (portfolio)
Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang sistematis dalam satu periode. Kumpulan hasil kerja ini memperlihatkan prestasi dan ketrampilan siswa. Hal penting yang menjadi ciri dari portofolio adalah hasil kerja tersebut harus diperbaharui sebagaimana prestasi dan ketrampilan siswa mengalami perkembangan. Dalam dunia pengajaran, portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
2)      Penilaian melalui unjuk kerja (performance)
Penilaian untuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamtan penilai terhadap aktivitas siwa sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unujk kerja, tingkah laku, atau interaksi siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena bentuk tugasnya lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Semakin banyak kesempatan guru mengamati unjuk kerja siswa, semakin reliable hasil penilaian tersebut.
3)      Penilaian melalui penugasan (project)
Penilaian melalui proyek dilakukan terhadap suatu tugas atau penyelidikan yang dilakukan siswa secara individual atau kelompok untuk periode tertentu. Penyelidikan meliputi pengumpulan dan pengorganisasian  data, analisa data, dan penyajian data dalam bentuk laporan. Proyek seringkali melibatkan pencarian data primer dan sekunder, mengevaluasi secara kritis hasil penyelidikan, dan kerjasama dengan orang lain. Oleh karena itu, proyek sangat bermanfaat bila digunakan untuk menilai keterampilan menyelidiki secara  umum untuk segala bidang pembelajaran. Di samping itu, proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan siswa dalam bidang tertentu dan mengetahui kemampuan siswa dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas.
4)      Penilaian melalui hasil kerja (product)
Penilaian hasil kerja adalah penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni seperti makanan, pahatan, dan barang logam.
5)      Penilaian melalui tes tertulis (pencil and paper)
Tes tertulis biasanya diadakan untuk waktu yang terbatas dan dalam kondisi tertentu Secara umum bentuk-bentuk tes tertulis adalahbenar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, isian singkat maupun uraian /esai.

8.       KONDISI BELAJAR DAN MASALAH-MASALAH BELAJAR
A.      Pengertian Kondisi Belajar.
 Kondisi belajar adalah suatu keadaan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Definisi yang lain tentang kondisi belajar adalah suatu keadaan yang mana terjadi aktifitas pengetahuan dan pengalaman melalui berbagai proses pengolahan mental.
Gagne membagi kondisi  belajar atas dua, yaitu:
1)      Kondisi internal (internal condition): Kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru. Kondisi internal ini dihasilkan oleh seperangkat proses transformasi (ingat information processing theory Gagne).
2)      Kondisi eksternal  (external condition) adalah situasi perangsang di luar diri si belajar. Kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar ber-beda2 untuk tiap kasus. Jenis kemampuan belajar yang berbeda akan membutuhkan kemampuan belajar sebelumnya yang berbeda dan kondisi eksternal yang berbeda pula.
B.      Kondisi Belajar Untuk Berbagai Jenis Belajar
Gagne (dalam Richey, 2000) menyatakan bahwa dibutuhkan kondisi belajar yang efektif untuk berbagai jenis/ kategori kemampuan belajar. Kondisi belajar dibagi atas lima kategori belajar sebagai berikut:
1)      Keterampilan intelektual (intellectual skill): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali keterampilan-ketrampilan bawahan (yang sebelumnya), pembimbingan dengan kata-kata atau alat lainnya.
2)      Informasi verbal (verbal information): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali konteks dari informasi yang bermakna, kinerja (performance) dari pengetahuan baru yang direkonstruksi.
3)      Strategi kognitif (Cognitive Strategy/problem solving): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali aturan-aturan dan konsep-konsep yang relevan, penyajian situasi masalah baru yang berhasil, pendemonstrasian solusi oleh siswa.
4)      Sikap (attitude): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali informasi dan ketrampilan intelektual yang relevan dengan tindakan pribadi yang diharapkan,  pembentukan atau pengingatan kembali model manusia yang  dihormati, penguatan tindakan pribadi dengan pengalaman langsung yang berhasil maupun yang dialami oleh orang lain dengan mengamati orang yang dihormati.
5)      Keterampilan motorik (Motor Skill): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali rangkaian unsur motorik, pembentukan atau pengingatan kembali kebiasaan-kebiasaan yang dilaksanakan, pelatihan ketrampilan-ketrampilan keseluruhan, balikan yang tepat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar