1.
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
A.
Pengertian Belajar Dan Ciri-Cirinya
Belajar adalah sebuah proses perubahan di
dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan,
pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan
kemampuan-kemampuan yang lain.
Menurut Djamarah(2002:15) belajar
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Belajar adalah perubahan yang terjadi
secara sadar.
2) Perubahan dalam belajar bersifat
fungsional.
3) Perubahan dalam belajar bersifat positif
dan aktif.
4) Perubahan dalam belajar tidak bersifat
sementara.
5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau
terarah.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah
laku.
B.
Jenis-Jenis Belajar
1)
Menurut Robert M. Gagne
Manusia memilki beragam potensi, karakter,
dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipre-tipe belajar yang
dilakukan manusia. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
a) Belajar isyarat (signal learning). Menurut
Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus
sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning
terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya
yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
b) Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini
memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang
tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu
(shaping). Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau
gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member
pertanyaan kemudian murid menjawab.
c) Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini
merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya
membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran
tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk
mencapai tujuannya.
d) Belajar asosiasi verbal (verbal
Association). Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu
obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata
dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu
praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek
kayu.
e) Belajar membedakan (discrimination). Tipe
belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai
kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan
dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak
versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan
sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti
kotak kardus, kubus, dsb.
f) Belajar konsep (concept learning). Belajar
mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok
tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili
kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek
atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau
konsep dalam kuliah mekanika teknik.
g) Belajar dalil (rule learning). Tipe ini
meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari
penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk
kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang
tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman
diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
h) Belajar memecahkan masalah (problem solving).
Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk
memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order
rule). Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada
siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian
dari masalah tersebut.
Selain delapan jenis belajar, Gagne juga membuat semacam sistematika
jenis belajar. Menurutnya sistematika tersebut mengelompokkan hasil-hasil
belajar yang mempunyai ciri-ciri sama dalam satu katagori. Kelima hal tersebut
adalah :
a)
keterampilan
intelektual : kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya
dengan menggunakan symbol huruf, angka, kata atau gambar.
b)
informasi
verbal : seseorang belajar menyatakan atau menceritakan suatu fakta atau suatu
peristiwa secara lisan atau tertulis, termasuk dengan cara menggambar.
c)
strategi
kognitif : kemampuan seseorang untuk mengatur proses belajarnya sendiri,
mengingat dan berfikir.
d)
keterampilan
motorik : seseorang belajar melakukan gerakan secara teratur dalam urutan
tertentu (organized motor act). Ciri khasnya adalah otomatisme yaitu gerakan
berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan luwes.
e)
sikap
keadaan mental yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan
dalam bertindak.
2) Menurut
Bloom
Benyamin S. Bloom (1956) adalah ahli
pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konseptaksonomi belajar. Taksonomi
belajar adalah pengelompokkan tujuan berdasarkan domain atau kawasan belajar.
Menurut Bloom ada tiga dmain belajar yaitu :
a)
Cognitive
Domain (Kawasan Kognitif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan
aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bias diukur dengan pikiran atau
nalar. Kawasan ini tediri dari:
Ø Pengetahuan (Knowledge).
Ø Pemahaman (Comprehension).
Ø Penerapan (Aplication)
Ø Penguraian (Analysis).
Ø Memadukan (Synthesis).
Ø Penilaian (Evaluation).
b)
Affective
Domain (Kawasan afektif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek
emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan
sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:
Ø Penerimaan (receiving/attending).
Ø Sambutan (responding).
Ø Penilaian (valuing).
Ø Pengorganisasian (organization).
c)
Karakterisasi (characterization).
Psychomotor Domain (Kawasan psikomotorik). Adalah kawasan yang berkaitan
dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan
otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini
terdiri dari:
Ø Kesiapan (set).
Ø Meniru (imitation).
Ø Membiasakan (habitual).
Ø Adaptasi (adaption).
C.
Pengertian Pembelajaran Dan Ciri-Cirinya
Pengertian
pembelajaran menurut kamus bahasa Indonesia adalah Pembelajaran adalah proses,
cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, Pengertian pembelajaran
menurut beberapa ahli :
1) Duffy dan Roehler (1989). Pembelajaran
adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan
profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.
2) Gagne dan Briggs (1979:3). Mengartikan
instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang
dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya
proses belajar siswa yang bersifat internal.
Ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut :
a) merupakan upaya sadar dan disengaja
b) pembelajaran harus membuat siswa belajar
c) tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu
sebelum proses dilaksanakan
d) pelaksanaannya terkendali, baik isinya,
waktu, proses maupun hasilnya
D.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Beberapa
prinsip pembelajaran dikemukakan oleh Atwi Suparman dengan mengadaptasi
pemikiran Fillbeck (1974), sebagai berikut :
1) Respon-respon baru (new responses) diulang
sebagai akibat dari respon yang terjadi sebelumnya.
2) Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat
dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda
dilingkungan siswa.
3) Perilaku yang timbul oleh tanda-tanda
tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan
akibat yang menyenangkan.
4) Belajar yang berbentuk respon terhadap
tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas
pula.
5) Belajar menggeneralisasikan dan membedakan
adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti yang berkenaan dengan
pemecahan masalah.
6) Situasi mental siswa untuk menghadapi
pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan siswa selama proses siswa
belajar.
7) Kegiatan belajar yang dibagi menjadi
langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik menyelesaikan tiap langkah, akan
membantu siswa.
8) Kebutuhan memecah materi kompleks menjadi
kegiatan-kegiatan kecil dapat dikurangi dengan mewujudkan dalam suatu model.
9) Keterampilan tingkat tinggi (kompleks)
terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana.
10) Belajar akan lebih cepat, efisien, dan
menyenangkan bila siswa diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan cara
meningkatkannya.
11) Perkembangan dan kecepatan belajar siswa
sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada yang lebih lambat.
12) Dengan persiapan, siswa dapat
mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan
menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar.
2.
TEORI-TEORI BELAJAR DAN PENERAPANNYA
A.
Pengertian Teori Deskriptif Dan
Prespriktif
Untuk
membedakan antara teori belajar dan teori pembelajaran bisa diamati dari
posisional teorinya, apakah berada pada tataran teori deskriptif atau
perspektif. Bruner (dalam Dageng, 1989) mengemukakan bahwa teori pembelajaran
adalah perspektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan
utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal,
sedangkan teori belajar bersifat deskritif karena tujuan utama teori belajar
adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada
hubungan antara variable-variabel yang menentukan hasil belajar. Sedangkan
teori pembelajaran sebaliknya, teori ini menaruh perhatian pada bagaimana
seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain
teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable yang
dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar.(C.Asri
Budiningsih,2004).
Asri
Budiningsih (2004) dalam buku Belajar dan Pembelajaran menjelaskan bahwa upaya
dari Bruner untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori
pembelajaran yang perspektif dikembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth. Teori
dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variable kondisi
dan metode pembelajaran sebagai givens dan menempatkan hasil belajar sebagai
varibael yang diamati. Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran
sebagai variable bebas dan hasil pembelajaran sebagai variable tergantung.
B.
Teori Belajar Behavioristik
Teori
belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang
dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui
rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon)
berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan
belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab
belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik
terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da
kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
1) Ivan P.Pavlov
mengemukakan
bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara
stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon
yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya.
2) Thorndike
Menurut
Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Thorndike menggambarkan proses
belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses
belajar, pelajar harus diberi persoalan.
Thorndike
menemukan hukum-hukum belajar :
a) Hukum kesiapan (Law of Readiness).
Jika suatu
organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka
pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi
cenderung diperkuat.
b) Hukum latihan.
Hukum
latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Semakin
sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin
kuat. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum
atau practice makes perfect.
c) Hukum akibat ( Efek ).
Hubungan
stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung
diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Rumusan tingkat hukum akibat adalah,
bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk
dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Jadi hokum akibat menunjukkan
bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.
d) Skinner (1904-1990)
Skinner
menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar.
Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah
laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga
anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning.
Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat
mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai
keinginan.
C.
Teori Belajar Kognitivistik
Teori ini lebih menekankan kepada proses
belajar daripada hasil belajar. Bagi yang menganut aliran kognitivistik belajar
tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Lebih dari itu
belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori
kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun didalam diri seseorang melalui proses
interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidajk hanya
berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses mengalir,
bersambung dan menyeluruh.
1) Robert M. Gagne
Salah satu teori yang berasal dari psikolog
kognitiv adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M.
Gagne. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi
dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan otak manusia sendiri dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a) Reseptor (alat indera) : menerima
rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsaangan neural,
memberikan symbol informasi yang diterimanya dan kemudian di teruskan.
b) Sensory register (penempungan kesan-kesan
sensoris) : yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan
sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual.
Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek dan sebagian
hilang dalam system.
c) Short term memory (memory jangka pendek) :
menampung hasil pengolahan perceptual dan menyimpannya. Informasi tertentu
disimpan untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan
informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpananya juga
pendek. Informasi dalam memori ini dapat di transformasi dalam bentuk kode-kode
dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang.
d) Long Term memory (memori jangka panjang)
:menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang
disimpan dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan
saja.
e) Response generator (pencipta respon) :
menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya
menjadi reaksi jawaban.
2) Jean Piaget
Menurut
Piaget proses belajar sebenarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu :
a) Asimilasi :
proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada.
b) Akomodasi :
proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
c) Equilibrasi
: penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.
D.
Teori Humanistik
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar
adalah untuk memanusiakan manusia. proses belajar dianggap berhasil jika si
pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses
belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar
dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
1) Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa
di dalam diri individu ada dua hal :
a) suatu usaha yang positif untuk berkembang
b) kekuatan untuk melawan atau menolak
perkembangan itu.
Maslow
mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan
yang bersifat hirarkis, Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai
perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk
mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan
sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih
maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke
arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat
menerima diri sendiri(self).
2) Bloom dan Krathwohl
Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang
mungkin dikuasai oleh siswa tercakup dalam tiga kawasan yaitu kognitif, afektif
dan psikomotor.
E.
Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme adalah bahwa dalam
proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah
yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang
lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan
belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan
siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif
siswa, Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik,
yaitu:
1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat
nyata dalam kontek yang relevan
2) mengutamakan proses
3) menanamkan pembelajaran dalam konteks
pengalaman social
4) pembelajaran dilakukan dalam upaya
mengkonstruksi pengalaman
3.
MOTIVASI
A. Pengertian
Motivasi
Motivasi berasal
dari kata bahasa latin “movere“ yang berarti “menggerakkan“. Berdasarkan
pengertian ini makna motivasi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan
motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku
tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku
tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme.
Motivasi juga
dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu”
(Cropley, 1985). Hamper senada Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah
adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Pengertian ini bermakna jika
seseorang melihat suatu manfaat dan keuntungan yang akan diperoleh maka ia akan
berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut.
B.
Jenis Dan Sumber Motivasi
Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi
intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang
berasal dari dalam individu tanpa adanya rangsangan dari luar, sedangkan
motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar misalnya pemberian
pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan faktor-faktor
eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional.
Menurut Maslow, ada lima kebutuhan dasar
manusia. Kelima kebutuhan tersebut adalah :
1) Kebutuhan fisiologis (physiological
needs),
2) Kebutuhan keamanan dan rasa terjamin
(safety or security needs),
3) Kebutuhan social (social needs),
4) Kebutuhan ego (esteem needs),
5) Kebutuhan aktualisasi diri
(self_actualization).
Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut
Maslow harus terpenuhi, sebab kebutuhan yang telah lama tidak terpenuhi, tidak
dapat menjadi active motivator. Jika kebutuhan tersebut terblokade dan tidak
dapat menjadi active motivator, maka usaha manusia hanya bertahan pada level
sebelumnya, dan tidak ada peningkatan. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan
merupakan hal penting untuk meningkatkan motivasi seseorang termasuk dalam
konteks motivasi belajar. Seseorang yang lama kebutuhannya tidak terpenuhi,
bisa menjadi penyebab timbulnya sikap-sikap destruktif, menentang, dan bahkan
frustasi.
Terhadap teori Maslow ini tentu saja tidak
sepenuhnya benar, bahwa pemenuhan kebutuhan harus hirarkis sehingga seseorang
tidak bisa melakukan aktualisasi diri sebelum esteem needs dan kebutuhan
lainnya terpenuhi. Dalam prakteknya tidak sedikit orang termotivasi melakukan
sesuatu yang konstruktif (aktualisasi diri) meski kebutuhan-kebutuhan
sebelumnya belum terpenuhi.
C.
Peran Motivasi Dalam Belajar Dan
Pembelajaran
Secara umum
terdapat dua peranan penting motivasi dalam belajar, pertama, motivasi
merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Kedua,
motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa
senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai
energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Beberapa
penelitian tentang prestasi belajar menunjukkan bahwa motivasi sebagai faktor
yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Tokoh-tokoh
pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977) Bloom (1980), Winer
(1986), Fyans dan Maerh (1987) melakukan berbagai penelitian tentang peranan
motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Dalam studi yang
dilakukan Fyans dan Maerh (1987) bahwa di antara tiga faktor, yaitu latar
belakang keluarga, kondisi/ konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir
merupakan prediktor yang paling baik untuk pretasi belajar. Walberg dkk (1983),
menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen
terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan Suciati (1990), menyimpulkan
bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen, sedangkan Mc Clelland menunjukkan
bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai
64 persen terhadap prestasi belajar.
D.
Model Motivasi ARCS
Dari berbagai
teori motivasi yang berkembang, Keller (1983), telah menyusun seperangkat
prinsip-prinsip motavasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang
disebut sebagai ARCS model yakni Attetion (perhatian), Relevance (Relevansi),
Confidence (kepercayaan diri) dan Satisfaction (kepuasan).
Attetion
(perhatian), muncul didorong rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu seseorang
dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada,
kontradiktif atau kompleks.
Ada beberapa
strategi untuk merangsang minat dan perhatian, yakni :
1) Gunakan metode menyampaian yang
bervariasi,
2) Gunakan media untuk melengkapi
pembelajaran,
3) Gunakan humor dalam penyajian
pembelajaran,
4) Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan
contoh-contoh untuk memperjelas konsep yang diutarakan dan,
5) Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan
siswa .
Relevance
(Relevansi), menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan
dan kondisi siswa. Ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menunjukkan
relevansi dalam pembelajaran:
1) Sampaikan kepada siswa apa yang akan dapat
mereka lakukan setelah mempelajari materi pembelajaran,
2) Jelaskan manfaat pengetahuan atau
keterampilan yang akan dipelajari,
3) Berikan contoh, latihan atau tes yang
langsung berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tertentu.
Confidence
(kepercayaan diri), merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk
dapat berinteraksi dengan lingkungan. Motivasi akanmeningkat sejalan dengan
meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah strategi untuk meningkatkan
kepercayaan diri :
1) Meningkatkan harapan siswa untuk berhasil
dengan memperbanyak pengalaman berhasil,
2) Menyusun pembelajaran ke dalam
bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut mempelajari
banyak konsep sekaligus,
3) Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan
menggunakan persyaratan untuk berhasil,
4) Menggunakan strategi yang memungkinkan
kontrol keberhasilan di tangan siswa,
5) Tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa
dengan pernyataan-pernyataan yang membangun,
6) Berikan umpan balik konstruktif selama
pembelajaran, agar siswa mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi belajar
mereka.
Satisfaction
(kepuasan), keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan
kepuasan, siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang
serupa. Ada sejumlah strategi untuk mencapai kepuasan, yakni :
1) Gunakan pujian secara verbal, umpan balik
yang informative, bukan ancaman atau sejenisnya,
2) Berikan kesempatan kepada siswa untuk
segera menggunakan atau mempraktekkan pengetahuan yang baru dipelajari,
3) Minta kepada siswa yang telah menguasai
untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil,
4) Bandingkan prestasi siswa dengan
prestasinya sendiri di masa lalu dengan suatu atandar tertentu, bukan dengan
siswa lain.
E.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Dalam buku belajar dan pembelajaran Ali Imron (1996) mengemukakan ada
enam unsur atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran.
Keenam faktor tersebut adalah :
1) Cita-cita atau aspirasi pembelajar
Cita-cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi
belajar. Hal ini bisa diamati dari banyaknya kenyataan motivasi seorang
pembelajar menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita.
2) Kemampuan pembelajar
Manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena itu sering
terlihat seseorang memiliki kemampuan di bidang tertentu belum tentu memiliki
kemampuan di bidang lainnya.
3) Kondisi pembelajar
Hal ini bisa terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis
pembelajar. Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat
dari keadaan fisik seseorang. Apabila kondisi psikis seseorang sedang tidak
bagus maka motivasi pun akan menurun.
4) Kondisi lingkungan pembelajar
Kondisi lingkungan pembelajar menjadi factor yang mempengaruhi
motivasi bisa diamati dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang
mengitari si pembelajar.
5) Unsur-unsur dinamis belajar atau
pembelajaran
Faktor dinamisasi belajar dapat diamati pada sejauh mana upaya memotivasi
si pembelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu
belajar, suasana belajar dan sebagainya.
6) Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar
F.
Upaya-Upaya Memotivasi Dalam Belajar
Ali Imron (1996) mengemukakan ada empat upaya yang dapat dilakukan
oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pembelajar. Empat cara tersebut
adalah :
1) Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip
belajar,
2) Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis
pembelajaran,
3) Mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru
dalam membelajarkan pembelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi,
4) Mengembangkan aspirasi dalam belajar.
Ada sejumlah prinsip-prinsip belajar yang harus dioptimalkan sebagai
upaya memotivasi dalam belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah : prinsip
perhatian, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, rangsangan
dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan, dan prinsip perbedaan
individual antar pembelajar. Untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip tersebut
diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan mengupayakan untuk menjauhkan
kendala-kendala yang ditemui dalam proses optimalisasi tersebut.
Optimalisasi yang dilakukan adalah optimalisasi unsur dinamis dan
optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pembelajar. Optimalisasi unsur dinamis
dilaksanakan dengan cara perlunya kreativitas dalam menyiapkan alat-alat
belajar bersama pembelajar. Sedangkan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan
pembelajaran dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1) Biarkan pembelajar menangkap sesuai
kemampuan dan pengalamannya.
2) Kaitkan pengalaman belajar saat ini dengan
pengalaman masa lalu dan kemampuan si pembelajar.
3) Lakukan penggalian pengalaman dan
kemampuan yang dimiliki pembelajar.
4) Beri kesempatan pembelajar untuk
membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang
telah dimilikinya.
Cita-cita dan aspirasi juga penting dikembangkan sebagai upaya dalam
memotivasi belajar si pembelajar.
4. KURIKULUM
A. Pengertian
Kurikulum
kurikulum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang
artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan
jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan
rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagai sejumlah
mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk
memperoleh ijasah.
Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang
diekpresikan dalam praktik.Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track
atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin
berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum
tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran
yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Menurut Grundy, S (1987) kurikulum merupakan program aktivitas guru
dan murid yang dirancang sedemikian rupa sehingga akan mencapai
sebanyak mungkin tujuan akhir kegiatan pendidikan atau sekolah.
B.
Landasan Kurikulum
Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan
dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan.Mengingat
pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia,
maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan
secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan
landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil
pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak
didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan
pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan
manusia.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) dalam
Akhmad Sudrajat, mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan
kurikulum, yaitu:
1) Landasan filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum.
Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada
berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme,
eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan
kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu,
sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
2) Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakanbahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yangmendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologiperkembangan dan (2) psikologi belajar.
Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang
perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya, Dalam psikologi
perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan,
aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal
lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi
belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam
konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat
belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku
individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
3) Landasan sosiologis
Kurikulum
dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu
rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta
didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan
hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan
serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja
dan mencapai perkembangan lebih lanjut dimasyarakat.
4) Organisatoris
Landasan ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan
kurikulum perlu di susun suatu desain yang tepat dan fungsional. Dilihat dari
organisasinya ada tiga tipe bentuk kurikulum:
a) Kurikulum yang berisi sejumlah mata
pelajaran yang terpisah-pisah (separated
subject curriculum).
b) Kurikulum yang berisi sejumlah mata
pelajaran yang sejenis di hubung-hubungkan (Correlated
curriculum).
c) Kurikulum yang terdiri dari peleburan
semua/hampir semua mata pelajaran (integrated
curriculum).
C.
Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang
komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi.
Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja
kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan
perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Asep Herry Hernawan dkk (2002)
mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1) Prinsip relevansi; secara internal bahwa
kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan,
bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa
komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan
dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik
(relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat
(relevansi sosilogis).
2) Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan
kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan
fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian
berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta
kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3) Prinsip kontinuitas; yakni adanya
kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal.
Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan
kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan,
maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4) Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar
dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan
sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya
memadai.
5) Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan
agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang
mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
D.
Pendekatan Kurikulum
Pendekatan kurikulum ialah cara kerja
dengan cara menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikut
langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghaislkan kurikulum yang
lebih baik.
Ada berbagai macam pendekatan yang
digunakan dalam mengembangkan kurikulum, yaitu :
1) Pendekatan berorientasi pada bahan
pelajaran
2) Pendekatan berorientasi pada tujuan
3) Pendekatan dengan pola organisasi bahan
E.
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan
perubahan dari Kurikulum Berbasis Content atau yang lebih dikenal
dengan Kurikulum Nasional yang diatur dalam Kepmendikbud no 56/U/1994.
Bentuk perubahan utama dari perubahan kurikulum yang dilakukan adalah kurikulum
berbasis kontent menitik beratkan pada penguasaan ilmu dan aplikasinya dimana
kurikulum ini dibagi menjadi kurikulum nasional dan kurikulum lokal. Kurikulum
Berbasis Kompetensi tidak lagi menekankan pada pada konten tapi menekankan pada
kompetensi lulusan yang diinginkan sehingga lulusan di terima di dunia luar.
Dari kompetensi ini baru dirumuskan bahan kajian apa yang diperlukan dan
diimplementasikan dalam bentuk Mata Kuliah yang akan diberikan pada mahasiswa.
Mata kuliah yang diberikan tentunya MK yang diberikan dalam rangka mencapai
kompetensi yang diinginkan.
Untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai
dengan kebutuhan
masyarakat atau tepatnya peserta didik, maka ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam proses pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
yaitu sebagai berikut:
masyarakat atau tepatnya peserta didik, maka ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam proses pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
yaitu sebagai berikut:
1) Peningkatan Keimanan, Budi Pekerti luhur,
dan Penghayatan nilai – nilai
Budaya.
Budaya.
2) Menghadapi abad pengetahuan
3) Integritas Nasional
4) Perkembangan Pengetahuan dan Tekhnologi
Informasi
5) Pengembangan Kecakapan Hidup
6) Komprehensif dan Berkesinambungan
7) pendidikan alternative
8) pendidikan multikultural dan multi bahasa
9) Pendidikan sepanjang hayat
5. PENDEKATAN PEMBELAJARAN
A. Pendekatan
Pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis
pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat
pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
B.
Jenis-Jenis Metode Pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan
kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something”
sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008).
Jadi, metode pembelajarandapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Jenis-jenis metode dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pendekatan,
diantaranya:
1) Berdasarkan pemberian informasi:
a) Metode Ceramah
b) Metode Tanya Jawab
c) Metode Demonstrasi
2) Berdasarkan pemecahan masalah:
a) Metode Curah Pendapat (Brainstorming)
b) Metode Diskusi Kelompok
c) Metode Panel
d) Metode Seminar
e) Metode Simposium
3) Berdasarkan penugasan:
a) Metode Latihan (Drill)
b) Metode Penugasan (Resitasi)
c) Metode Kelompok Kerja (Workshop)
d) Metode Studi Kasus
e) Metode Karyawisata
C.
Jenis-Jenis Pendekatan Belajar
dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang
kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnyamasih sangat umum, di dalamnya
mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pendekatan pembelajaran terdapat beberapa jenis yaitu :
1) Pendekatan Quantum Teaching
2) Pendekatan Multiple Intelegences
3) Pendekatan E-Learning
4) Pendekatan belajar aktif
5) Pendekatan belajar kooperatif
6) Pendekatan konteksual
7) Pendekatan belajar berbasis masalah
6.
SUMBER BELAJAR
A.
Pengertian Sumber Belajar
Sudjana (Suratno, 2008), menuliskan bahwa
pengertian Sumber Belajar bisa diartikan secara sempit dansecara luas.
Pengertian secara sempit diarahakan pada bahan-bahan cetak. Sedangkan secara
luas tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses
belajar mengajar, baik secara langsungmaupun tidak langsung.
B.
Macam-Macam Sumber Belajar
Sumber belajar adalah semua sumber (baik
berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas
(kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajara ini bermanfaat dalam memberikan
sumbangan yang positif untuk peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran.
Terdapat enam macam sumber belajar yaitu :
1) Pesan
2) Orang
3) Bahan
4) Alat
5) Teknik
6) latar /
lingkungan.
Keenam sumber
belajar tersebut juga merupakan komponen system dalam pembelajaran, artinya
dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu terdapat keenam komponen tersebut.
C. Manfaat Sumber Belajar
Manfaat sumber belajar, masih menurut
Rohani (1997), antara lainmeliputi:
1) Dapat memberi pengalaman belajar secara
langsung dankonkrit kepada peserta didik. Misal, karyawisata ke objek-objek
sepertipabrik, pelabuhan, kebun binatang, dan sebagainya.
2) Dapat menyajikansesuatu yang tidak mungkin
diadakan, dikunjungi, atau dilihat secaralangsung dan konkret. Misal denah,
sketsa, foto-foto, film, majalah, dansebagainya.
3) Dapat
menambah dan memperluas cakrawala sajian yangada di
dalam kelas. Misal buku-buku teks, foto-foto, film, nara sumbermajalah dan
sebagainya.
4) Dapat memberi informasi yang akurat danterbaru.
Misal, buku-buku bacaan, encyclopedia, majalah.
5) Dapatmembantu memecahkan masalah
pendidikan (instruksional) baik dalamlingkup mikro maupun makro. Misal, secara
makro: sistem belajar jarak jauh(SBJJ) melalui modul. Secara mikro:
pengetahuan ruang (lingkungan) yangmenarik, simulasi, penggunaan film dan OHP.
6) Dapat memberi informasiyang positif,
apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7) Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap
dan berkembang lebih lanjut.Misal, buku teks, buku bacaan, film dan lain-lain,
yang mengandung daya penalaran sehingga dapat merangsang peserta didik untuk
berpikir,menganalisis dan berkembang lebih lanjut.
D.
pendekatan belajar berbasis aneka
sumber (BEBAS)
Belajar berbasis aneka sumber terkait
dengan beberapa pengertian dan sistem pembelajaran diantaranya: open
learning. Distance learning, flexible learning, learning
resources, dan resource based seperti yang dikemukakan oleh
Dorrell (1993):
1) Open learning adalah prinsip belajar
terbuka untuk semua orang. Dengan kata lain tidak ada prakualifikasi
seperti batas usia, status sosial, ekonomi dan lain-lain. Pemelajar dapat
memilih di mana, kapan, bagaimana, mereka akan belajar serta bebas dari segala
interupsi.
2) Distance learning, pendidikan jarak
jauh adalah sistem atau proses yang langsung menghubungkan
pemelajar dengan sumber-sumber yang jauh. Bahan-bahan yang digunakan sama
dengan yang digunakan dengan pendidikan terbuka.
7.
EVALUASI HASIL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
A.
Pengertian Pengukuran, Penilaian(Asesmen)
dan Evaluasi
1) Pengukuran
merupakan proses membandingkan
tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan
belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif
Berikut beberapa definisi mengenai
pengukuran menurut beberapa ahli:
a) Pengukuran secara lebih formal sebagai
suatu proses di mana kita mengenakan angka-angka kepada barang atau
gejala-gejala berdasarkan aturan-aturan tertentu.
b) Pengukuran sebagai proses membandingkan
sesuatu dengan satuan ukuran tertentu.
c) Norman E. Gronlund (1971) secara sederhana
merumuskan pengukuran sebagai "measurement is
limited to quantitative descriptions of pupil behavior"
d) Victor H. Noll (1957) mengemukakan dua
karakteristik utama pengukuran yaitu "quantitativeness" dan
"constancy of units". Yang menyatakan "Since measurement is
a quantitative process, the results of measurement are always expressed in
numbers ".
2) Penilaian
Penilaian adalah suatu proses untuk
mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui
pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrument tes atau non tes, Sedangkan
pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah suatu proses pembuatan
keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembelajaran secara kualitatif.
3) Evaluasi (evaluation)
Kata evaluasi merupakan pengindonesiaan
dari kata evaluation dalam bahasa Inggris, yang lazim diartikan
dengan penaksiran atau penilaian. Kata kerjanya adalah evaluate yang
berarti menaksir atau menilai. Sedangkan orang yang menilai atau menaksir
disebut sebagai evaluator(Echols, 1975).
Penilaian
atau assesement terhadap pembelajaran siswa membutuhkan
penggunaan sejumlah teknik untuk mengukur prestasi siswa. Penilaian
merupakan suatu proses sistematis yang memainkan peran penting dalam pengajaran
yang efektif. Penilaian berawal dari identifikasi tujuan pembelajaran (learning
goal) dan berakhir dengan penilaian (judgment) tentang seberapa dalam tentang
tujuan itu telah tercapai.
B.
Penilaian Hasil Belajar Dan
Kegunaannya
Penilaian hasil belajar adalah segala
macam prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai unjuk kerja
(performance) siswa atau seberapa jauh siswa dapat mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.
Terdapat beberapa cara yang bisa digunakan
untuk mengumpulkan bukti-bukti kemajuan belajar siswa, yaitu :
1) Penilaian portofolio (portfolio)
Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja
siswa yang sistematis dalam satu periode. Kumpulan hasil kerja ini
memperlihatkan prestasi dan ketrampilan siswa. Hal penting yang menjadi ciri
dari portofolio adalah hasil kerja tersebut harus diperbaharui sebagaimana
prestasi dan ketrampilan siswa mengalami perkembangan. Dalam dunia pengajaran,
portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
2) Penilaian melalui unjuk kerja
(performance)
Penilaian untuk kerja adalah penilaian
berdasarkan hasil pengamtan penilai terhadap aktivitas siwa sebagaimana yang
terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unujk kerja, tingkah laku, atau interaksi
siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena bentuk
tugasnya lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Semakin banyak
kesempatan guru mengamati unjuk kerja siswa, semakin reliable hasil penilaian
tersebut.
3) Penilaian melalui penugasan (project)
Penilaian melalui proyek dilakukan
terhadap suatu tugas atau penyelidikan yang dilakukan siswa secara individual
atau kelompok untuk periode tertentu. Penyelidikan meliputi pengumpulan dan
pengorganisasian data, analisa data, dan penyajian data dalam bentuk
laporan. Proyek seringkali melibatkan pencarian data primer dan sekunder,
mengevaluasi secara kritis hasil penyelidikan, dan kerjasama dengan orang lain.
Oleh karena itu, proyek sangat bermanfaat bila digunakan untuk menilai
keterampilan menyelidiki secara umum untuk segala bidang pembelajaran. Di
samping itu, proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan
siswa dalam bidang tertentu dan mengetahui kemampuan siswa dalam
menginformasikan subyek tertentu secara jelas.
4) Penilaian melalui hasil kerja (product)
Penilaian hasil kerja adalah penilaian
terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni seperti
makanan, pahatan, dan barang logam.
5) Penilaian melalui tes tertulis (pencil and
paper)
Tes tertulis biasanya diadakan untuk waktu
yang terbatas dan dalam kondisi tertentu Secara umum bentuk-bentuk tes tertulis
adalahbenar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, isian singkat maupun uraian
/esai.
8.
KONDISI BELAJAR DAN MASALAH-MASALAH BELAJAR
A.
Pengertian Kondisi Belajar.
Kondisi belajar adalah suatu keadaan
yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Definisi yang lain
tentang kondisi belajar adalah suatu keadaan yang mana terjadi aktifitas
pengetahuan dan pengalaman melalui berbagai proses pengolahan mental.
Gagne membagi kondisi belajar
atas dua, yaitu:
1) Kondisi internal (internal
condition): Kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari
sesuatu yang baru. Kondisi internal ini dihasilkan oleh seperangkat proses
transformasi (ingat information processing theory Gagne).
2) Kondisi eksternal (external
condition) adalah situasi perangsang di luar diri si belajar. Kondisi
belajar yang diperlukan untuk belajar ber-beda2 untuk tiap kasus. Jenis
kemampuan belajar yang berbeda akan membutuhkan kemampuan belajar sebelumnya
yang berbeda dan kondisi eksternal yang berbeda pula.
B.
Kondisi Belajar Untuk Berbagai Jenis
Belajar
Gagne (dalam Richey, 2000) menyatakan
bahwa dibutuhkan kondisi belajar yang efektif untuk berbagai jenis/ kategori
kemampuan belajar. Kondisi belajar dibagi atas lima kategori belajar
sebagai berikut:
1) Keterampilan intelektual (intellectual
skill): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah
pengambilan kembali keterampilan-ketrampilan bawahan (yang sebelumnya),
pembimbingan dengan kata-kata atau alat lainnya.
2) Informasi verbal (verbal information):
Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan
kembali konteks dari informasi yang bermakna, kinerja (performance) dari
pengetahuan baru yang direkonstruksi.
3) Strategi kognitif (Cognitive
Strategy/problem solving): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang
dibutuhkan adalah pengambilan kembali aturan-aturan dan konsep-konsep yang
relevan, penyajian situasi masalah baru yang berhasil, pendemonstrasian solusi
oleh siswa.
4) Sikap (attitude): Untuk jenis belajar ini,
kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali informasi dan
ketrampilan intelektual yang relevan dengan tindakan pribadi yang
diharapkan, pembentukan atau pengingatan kembali model manusia
yang dihormati, penguatan tindakan pribadi dengan pengalaman
langsung yang berhasil maupun yang dialami oleh orang lain dengan mengamati
orang yang dihormati.
5) Keterampilan motorik (Motor
Skill): Untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah
pengambilan kembali rangkaian unsur motorik, pembentukan atau pengingatan
kembali kebiasaan-kebiasaan yang dilaksanakan, pelatihan
ketrampilan-ketrampilan keseluruhan, balikan yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar