KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Teriring shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan dan panutan, Nabi Besar Muhammad SAW beserta segenap keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Makalah disusun berdasarkan Tugas Mata Kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan lebih jauh mengenai pengertian belajar menurut teori-teori.
Dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih kepada:
- Dosen Teori Belajar dan Pembelajaran
- Rekan-rekan mahasiswa yang turut membantu dalam penyelesaian makalah ini.
- Kedua orang tua yang telah mengajarkan ilmu untuk dapat dikembangkan agar menjadi orang yang bermanfaat.
- Juga suami yang telah membimbing.
Penulis mengakui makalah ini masih terdapat kekurangan yang tidak terlepas dari kekurangan penulis sendiri. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan agar dalam kesempatan selanjutnya penulis dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan dan dapat menyusun makalah dengan lebih baik lagi.
Jakarta, 20 Maret 2012
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar belakang
Dari banyak pendapat yang ada, kata motivasi tidak lepas dari proses untuk mencapai suatu tujuan. Dan untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan berbagai dorongan sehingga terjadi suatu aktifitas-aktifitas yang mengarah atau memungkinkan suatu keberhasilan. Jadi bisa dikatakan bahwa awal dari keberhasilan karena adanya suatu motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang yang mungkin disebabkan oleh banyak faktor, baik itu faktor yang muncul langsung dari dalam dirinya serta faktor yang muncul karena pengaruh lingkungan atau keadaan sekitar. Seluruh kegiatan atau aktifitas sangat lekat dengan kata motivasi karena dengan adanya suatu motivasi peluang untuk mempeoleh hasil yang maksimal dalam setiap aktifitas akan terbuka lebar.
Dalam hal tersebut senada dengan pendapat Walker (1971) dimana dalam sebuah bukunya yang diberi judul Conditioning and instrumental learning yang dimana dia mengatakan bahwa “perubahan-perubahan yang dipelajari biasanya memberikan hasil yang lebih baik bilamana orang/individu mempunyai motivasi untuk melakukannya. Dalam pandangannya tersebut harus diikuti dengan proses latihan, karena latihan kadang-kadang menghasilkan perubahan-perubahan dalam motivasi sehingga memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam prestasi
Tapi dalam hal tersebut perubahan-perubahan yang terjadi bukan dari hasil belajar tetapi perubahan tersebut akibat dari pengalaman yang disebabkan oleh motivasi.
Hal tersebut juga berdampak dalam proses pembelajaran dan pengajaran terhadap siswa, suatu aktifitas belajar juga sangat berkaitan erat dengan motivasi. Perubahan suatu motivasi akan merubah pula wujud, bentuk , serta hasil belajar siswa. Ada masanya motivasi seorang individu untuk belajar sangat berpengaruh dalam proses aktifitas belajar itu sendiri jika dilihat dari pendapat yang ada serta realisasi yang terjadi, menjadi jelaslah bahwa salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri peserta didik secara efektif. Ini merupakan suatu kendala serius karena mengingat bahwa keberhasilan suatu pengajaran tergantung dan dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi/dorongan.
Hal tersebut juga berdampak dalam proses pembelajaran dan pengajaran terhadap siswa, suatu aktifitas belajar juga sangat berkaitan erat dengan motivasi. Perubahan suatu motivasi akan merubah pula wujud, bentuk , serta hasil belajar siswa. Ada masanya motivasi seorang individu untuk belajar sangat berpengaruh dalam proses aktifitas belajar itu sendiri jika dilihat dari pendapat yang ada serta realisasi yang terjadi, menjadi jelaslah bahwa salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri peserta didik secara efektif. Ini merupakan suatu kendala serius karena mengingat bahwa keberhasilan suatu pengajaran tergantung dan dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi/dorongan.
Dan mengenai hal itu, motivasi dapat diartikan lagi sebagai suatu usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada peserta didik/ pelajar yang menunjang kegiatan kearah tujuan belajar.
I.II. Perumusan masalah
· Apa yang dimaksud dengan motivasi?
· Seberapa penting peranan motivasi dalam proses belajar?
I.VI. Tujuan dan kegunaan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran dan penulisan ini dapat juga digunakan sebagai bahan bacaan semata untuk sekedar pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata bahasa latin “movere“ yang berarti “menggerakkan“. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme.
Sedangkan Imron (1996), menjelaskan motivasi berasal dari kata inggris “motivation” yang berarti dorongan pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong, menyebabkan, dan merangsang. Motive sendiri berarti alasan, sebab dan daya penggerak (Echols, 1984 dalam Imron, 1996) motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Suryabrata, 1984).
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Hamper senada Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Pengertian ini bermakna jika seseorang melihat suatu manfaat dan keuntungan yang akan diperoleh maka ia akan berusaha keras untuk mencapai tujuan tersebut.
Ames da Ames (1984) menjelaskan motivasi dari pandangan kognitif. Menurut pandangan ini motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya sebagai contoh seorang mahasiswa yang percaya bahwa ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan suatu tugas akan termotivasi untuk menyelesaikan tugas tersebut.
B. Jenis Dan Sumber Motivasi
Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu tanpa adanya rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar misalnya pemberian pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional.
Pemenuhan kebutuhan dimulai dari tingkat yang paling dasar dan secara hirarkis menuju kepada kebutuhan yang lebih tinggi. Teori ini dikemukakan oleh Abraham Maslow, menurut Maslow jika kebutuhan yang lebih rendah tingkatannya telah dipenuhi, maka kebutuhan yang berada di tingkatan atasnya akan muncul dan minta dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan yang menuntut pemenuhan tersebut dipandang sebagai motivator akrif. Sementara kebutuhan di tingkatan atasnya menjadi strongest need. Oleh karena itu, kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut secara berjenjang dan secara terus-menerus minta dipenuhi.
Menurut Maslow, ada lima kebutuhan dasar manusia. Kelima kebutuhan tersebut adalah :
1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs),
2. Kebutuhan keamanan dan rasa terjamin (safety or security needs),
3. Kebutuhan social (social needs),
4. Kebutuhan ego (esteem needs),
5. Kebutuhan aktualisasi diri (self_actualization).
Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Maslow harus terpenuhi, sebab kebutuhan yang telah lama tidak terpenuhi, tidak dapat menjadi active motivator. Jika kebutuhan tersebut terblokade dan tidak dapat menjadi active motivator, maka usaha manusia hanya bertahan pada level sebelumnya, dan tidak ada peningkatan. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan merupakan hal penting untuk meningkatkan motivasi seseorang termasuk dalam konteks motivasi belajar. Seseorang yang lama kebutuhannya tidak terpenuhi, bisa menjadi penyebab timbulnya sikap-sikap destruktif, menentang, dan bahkan frustasi.
Terhadap teori Maslow ini tentu saja tidak sepenuhnya benar, bahwa pemenuhan kebutuhan harus hirarkis sehingga seseorang tidak bisa melakukan aktualisasi diri sebelum esteem needs dan kebutuhan lainnya terpenuhi. Dalam prakteknya tidak sedikit orang termotivasi melakukan sesuatu yang konstruktif (aktualisasi diri) meski kebutuhan-kebutuhan sebelumnya belum terpenuhi.
C. Peran Motivasi Dalam Belajar Dan Pembelajaran
Secara umum terdapat dua peranan penting motivasi dalam belajar, pertama, motivasi merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Kedua, motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Beberapa penelitian tentang prestasi belajar menunjukkan bahwa motivasi sebagai faktor yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977) Bloom (1980), Winer (1986), Fyans dan Maerh (1987) melakukan berbagai penelitian tentang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Dalam studi yang dilakukan Fyans dan Maerh (1987) bahwa di antara tiga faktor, yaitu latar belakang keluarga, kondisi/ konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan prediktor yang paling baik untuk pretasi belajar. Walberg dkk (1983), menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan Suciati (1990), menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen, sedangkan Mc Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
D. Model Motivasi ARCS
Dari berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (1983), telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motavasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang disebut sebagai ARCS model yakni Attetion (perhatian), Relevance (Relevansi), Confidence (kepercayaan diri) dan Satisfaction (kepuasan).
Attetion (perhatian), muncul didorong rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu seseorang dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks.
Ada beberapa strategi untuk merangsang minat dan perhatian, yakni :
1) Gunakan metode menyampaian yang bervariasi,
2) Gunakan media untuk melengkapi pembelajaran,
3) Gunakan humor dalam penyajian pembelajaran,
4) Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep yang diutarakan dan,
5) Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa .
Relevance (Relevansi), menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menunjukkan relevansi dalam pembelajaran:
1) Sampaikan kepada siswa apa yang akan dapat mereka lakukan setelah mempelajari materi pembelajaran,
2) Jelaskan manfaat pengetahuan atau keterampilan yang akan dipelajari,
3) Berikan contoh, latihan atau tes yang langsung berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tertentu.
Confidence (kepercayaan diri), merasa diri kompeten atau mampu merupakan potensi untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan. Motivasi akanmeningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Ada sejumlah strategi untuk meningkatkan kepercayaan diri :
a. Meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman berhasil,
b. Menyusun pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut mempelajari banyak konsep sekaligus,
c. Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan persyaratan untuk berhasil,
d. Menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan siswa,
e. Tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan pernyataan-pernyataan yang membangun,
f. Berikan umpan balik konstruktif selama pembelajaran, agar siswa mengetahui sejauh mana pemahaman dan prestasi belajar mereka.
Satisfaction (kepuasan), keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Ada sejumlah strategi untuk mencapai kepuasan, yakni :
a. Gunakan pujian secara verbal, umpan balik yang informative, bukan ancaman atau sejenisnya,
b. Berikan kesempatan kepada siswa untuk segera menggunakan atau mempraktekkan pengetahuan yang baru dipelajari,
c. Minta kepada siswa yang telah menguasai untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil,
d. Bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri di masa lalu dengan suatu atandar tertentu, bukan dengan siswa lain.
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Dalam buku belajar dan pembelajaran Ali Imron (1996) mengemukakan ada enam unsur atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran. Keenam faktor tersebut adalah :
1. Cita-cita atau aspirasi pembelajar
Cita-cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Hal ini bisa diamati dari banyaknya kenyataan motivasi seorang pembelajar menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita.
2. Kemampuan pembelajar
Manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena itu sering terlihat seseorang memiliki kemampuan di bidang tertentu belum tentu memiliki kemampuan di bidang lainnya.
3. Kondisi pembelajar
Hal ini bisa terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pembelajar. Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat dari keadaan fisik seseorang. Apabila kondisi psikis seseorang sedang tidak bagus maka motivasi pun akan menurun.
4. Kondisi lingkungan pembelajar
Kondisi lingkungan pembelajar menjadi factor yang mempengaruhi motivasi bisa diamati dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang mengitari si pembelajar.
5. Unsur-unsur dinamis belajar atau pembelajaran
Faktor dinamisasi belajar dapat diamati pada sejauh mana upaya memotivasi si pembelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagainya.
6. Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar
F. Upaya-Upaya Memotivasi Dalam Belajar
Ali Imron (1996) mengemukakan ada empat upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pembelajar. Empat cara tersebut adalah :
1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar,
2. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis pembelajaran,
3. Mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi,
4. Mengembangkan aspirasi dalam belajar.
Ada sejumlah prinsip-prinsip belajar yang harus dioptimalkan sebagai upaya memotivasi dalam belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah : prinsip perhatian, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, rangsangan dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan, dan prinsip perbedaan individual antar pembelajar. Untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan mengupayakan untuk menjauhkan kendala-kendala yang ditemui dalam proses optimalisasi tersebut.
Optimalisasi yang dilakukan adalah optimalisasi unsur dinamis dan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pembelajar. Optimalisasi unsur dinamis dilaksanakan dengan cara perlunya kreativitas dalam menyiapkan alat-alat belajar bersama pembelajar. Sedangkan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pembelajaran dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1. Biarkan pembelajar menangkap sesuai kemampuan dan pengalamannya,
2. Kaitkan pengalaman belajar saat ini dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan si pembelajar,
3. Lakukan penggalian pengalaman dan kemampuan yang dimiliki pembelajar,
4. Beri kesempatan pembelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilikinya.
Cita-cita dan aspirasi juga penting dikembangkan sebagai upaya dalam memotivasi belajar si pembelajar.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Secara umum terdapat dua peranan penting motivasi dalam belajar, pertama, motivasi merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Kedua, motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Kondisi belajar adalah suatu bentuk belajar di mana kesanggupan untuk berrespon terhadap rangsangan tertentu dapat dipindahkan pada rangsangan yang lain. Kondisi belajar adalah suatu situasi belajar (learning situation) yang dapat menghasilkan perubahan perilaku (performance) pada seseorang setelah ia ditempakan pada situasi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar